Tidak Ada Jarak diantara Kita (Kontribusi Metodologi Life-Story untuk Memahami Kelompok Minoritas Lebih Baik)

 

Tidak melulu kita harus berada dalam sebuah penelitian tertentu atau proyek tertentu, metode Life-Story bisa dibilang metode yang tepat bahkan jika kita hanya ingin mempelajari lebih dalam tentang kehidupan seseorang dan masyarakat yang realita kehidupannya berbeda dengan realita kehidupan kita. Baik karena seseorang atau kelompok tersebut lahir dari ras yang berbeda, memeluk agama yang berbeda, maupun datang dari kelompok sosial dan ekonomi yang berbeda dan lain sebagainya. Sehingga karena status-status dan perbedaan tersebut mereka menjadi termarjinalkan dan menjadi kelompok minoritas. Kata kuncinya terletak pada kata “berbeda” dengan masyarakat pada umumnya atau masyarakat mayoritas.

Metode penelitian Life-Story ini dianggap paling pas atau tepat karena melalui metode penelitian ini kita mampu memahami bagaimana seorang individu atau kelompok tertentu melihat atau memaknai pengalaman dan kehidupan mereka serta bagaimana mereka berinteraksi dengan kelompok mereka. Esensi dari metode Life-Story ini yakni mengenai bagaimana kita mengamati dan mendengarkan cerita-cerita yang diceritakan oleh seorang individu atau kelompok tertentu mengenai kehidupan mereka yang tersampaikan baik berupa perkataan yang secara sengaja dikatakan bahkan dari perkataan yang secara tidak sengaja terucap.

Lantas mengapa melalui metodologi Life-Story dapat dikatakan mampu membuat kita sebagai peneliti atau paling tidak sebagai manusia yang seutuhnya dapat memahami kelompok minoritas  lebih baik? Hal ini dikarenakan melalui metode Life-Story kita mampu membangun relasi atau kedekatan dengan seorang individu atau kelompok tertentu dalam hal ini adalah kelompok minoritas. Bukan hanya itu, berangkat dari hanya mendengarkan cerita-cerita mereka yang tak banyak orang mau mendengarkan, hal ini mampu mengilhami kita tentang sesuatu yang tak pernah kita pikirkan sebelumnya, sesuatu yang benar-benar berbeda dan kita abaikan. Yang paling penting melalui Life-Story ini kita seolah dibangunkan, sisi kemanusian kita tergugah karena melibatkan perasaan kita yang terdalam. Sehingga kita dapat melihat lebih baik nilai dan makna yang eternal dari kehidupan.

Selama tujuh hari mengamati dan berperan sebagai pekerja rumah tangga (PRT) saya seolah dibangunkan dari tidur lelap saya oleh lonceng yang berdentang keras. Pekerjaan PRT yang selama ini saya lihat sebagai pilihan hidup dari seseorang dengan segala konsekuensi nya, saya anggap wajar saja mengingat mereka mendapatkan upah atau gaji dari apa yang mereka kerjakan. Tetapi ternyata hidup bukan hanya tentang “bisa makan” tetapi jauh lebih penting hidup juga tentang  “diakui” dan “dimanusiakan”.

Berperan sebagai PRT di rumah kos-kosan dengan tuan rumah yang hidup sebatang kara, tua renta dan sakit stroke ringan sangatlah luar biasa. Mengapa luar biasa, karena artinya tenaga satu orang ini harus cukup dibagi untuk melakukan pekerjaan rumah tangga seperti memasak, bersih-bersih (menyapu, mengepel, mencuci, menyetrika dan lain-lain) melakukan pekerjaan dan perawatan kos-kosan serta menjaga dan merawat seorang kakek tua renta yang sedang sakit. Ibu Unni (pekerja rumah tangga di rumah kos-Kosan) banyak bercerita mengenai kehidupan pribadinya ketika kami berbincang dan menyelesaikan pekerjaan rumah tangga bersama, ia bercerita mengenai bagaimana di keluarganya ia berperan sebagai tulang punggung keluarga yang harus menanggung seluruh beban keluarga, rasa lelah dan pahitnya hidup seolah harus ditelan mentah mentah. Suaminya tidak bekerja dan anak-anaknya membutuhkan perhatian seorang ibu secara bersamaan juga membutuhkan biaya sekolah. Membayangkan saja saya tidak bisa, mengurus banyak orang, memastikan seluruh kebutuhan rumah tangga nya terpenuhi dan biaya pendidikan anak-anaknya terbayar. Apalagi jika mengingat jumlah gaji yang tidak seberapa jika dibandingkan dengan seberapa banyak waktu ia memeras keringat.

Tetapi seperti yang saya katakan sebelumnya hidup bukan hanya tentang “bisa makan” tetapi juga tentang  “diakui” dan “dimanusiakan”. Argumen itu berangkat dari pengalaman ketika kami (saya dan ibu unni) pergi ke rumah sakit untuk mendaftarkan kakek check-up di rumah sakit, disana saya bisa melihat jelas bagaimana mereka yakni para pekerja di rumah sakit menatap kami dengan sebelah mata. Seperti kami tembus pandang saja, mereka seolah tak melihat ada kami yang berdiri menunggu nomor antrian sejak pukul 4.30 dini hari sampai sekitar pukul 7.00 pagi dan mereka (pekerja rumah sakit) tetap duduk dengan nyamannya di kursi menunggu. Saya tentu tidak mempermasalahkan diri saya sendiri karena saya masih muda dan mampu berdiri dalam waktu yang lama. Namun bagaimana dengan ibu unni, haruskah dia berdiri seperti ini setidaknya tiga kali dalam seminggu, dengan raut wajahnya yang jelas tampak canggung dan minder berada dalam ruangan yang megah tapi tak seorang pun peduli.

IMG_20170522_051042_1495551135015-01

By learning minority it gives me hope in humanity.

Referensi:

Media Remembering: the Contributions of Life-Story Methodology to Memory/Media Research Bourdon, Bab 4 dalam dalam On Media Memory Collective Memory in a New Media Age, 2011

Gubrium F Jaber, Holstein A James. 2002. Handbook of  Interview Research Context & Method. SAGE Publications.

Iklan

Memanusiakan Manusia

Opresi menurut Young dalam “five faces of Opression” dapat secara mudah dipahami sebagai segala bentuk perlakuan oleh seseorang atau sekelompok orang  yang dapat mengurangi potensi  orang lain untuk menjadi seorang manusia secara sepenuhnya. Yang artinya perlakuan tersebut tentunya bersifat tidak memanusiakan orang lain, kata tidak memanusiakan orang lain memang terdengar sangat  ekstrim, tetapi sebenarnya segala bentuk pengambilan hak seseorang sebagai manusia merupakan bentuk dari tidak memanusiakan manusia. Hak manusia adalah mendapat kebebasan, entah itu kebebasan dalam berpikir, berpendapat ataupun bebas dalam memilih jalan hidupnya masing-masing.

Opresi menurut Young hadir dalam lima bentuk, yakni:  eksploitasi, Marginalisasi, powerlessnes atau ketidakberdayaan, imperialisme budaya dan violence atau kekerasan.

Eksploitasi singkatnya adalah segala bentuk upaya atau kegiatan penggunaan tenaga orang lain untuk mendapatkan upah sebesar-besarnya tanpa memberi upah yang sepadan. Sedangkan arti singkat dari  marginalisasi adalah meminggirkan atau membatasi sekelompok manusia yang dipercaya memiliki kedudukan yang lebih rendah dalam masyarakat, Young percaya bawasannya marginalisasi ini lebih buruk dari eksploitasi karena masyarakat telah menentukan nilai-nilai tentang sekolompok manusia tersebut sehingga mereka tidak akan diberdayakan lagi oleh masyarakat. biasanya bentuk marginalisasi ini berdasarkan pada ras-ras tertentu.

Ketidakberdayaan atau powerlessness bersumber dari pikiran Marx bawasannya masyarakat ini terbagi menjadi dua, yakni yang berada atau memiliki kekuasaan dan yang tidak berada, atau tidak memiliki kekuasaan. Dan yang tidak memiliki kekuasaan inilah yang akan ditindas oleh yang memiliki kekuasaan. Sedangkan Imperialisme budaya singkatnya adalah penggunaan budaya dari ruling class atau kelas penguasa dan menjadikannya sebagai norma atau aturan aturan yang berlaku bagi seluruh masyarakat. Dan yang terakhir adalah Violence atau Kekerasan, yang merupakan bentuk paling kasat mata dari opresi. beberapa kelompok masyarakat hidup dengan anggapan bahwa mereka harus takut terhadap ancaman-ancaman yang tidak beralasan terhadap anggota kelompok mereka atau harta benda mereka.  Ancaman-ancaman tersebut tidak perlu memiliki motif dasar atau alasan  yang jelas namun hanya dimaksudkan untuk merusak, mengina atau mempermalukan seseorang individu atau sekelompok individu tertentu.

Tubman berkata “I would have free thousands more, if they had known they were slaves”. Seperti yang dikatakan oleh Tubman, dari kelima bentuk opresi bagi saya ketidakberdayaan atau powerlessness lah yang menjadi hal paling berbahaya.  karena bagaimanapun perasaan tidak berdaya pada seseorang  dapat menindas diri mereka sendiri. Freire dalam artikelnya berpendapat bahwa sifat ketidakberdayaan menciptakan sebuah budaya yang disebutnya sebagai “Culture of Silence” atau budaya diam dan jika mereka sudah mencapai level ini maka mereka akan bungkam terhadap segala bentuk penindasan dan tidak akan berupaya untuk memperoleh keadilan.

1486722390127
Enter a caption

Powerlessness atau ketidakberdayaan rupanya bukan hanya terjadi pada orang yang tidak memiliki power atau kekuasaan seperti yang dikatakan Marx, tetapi juga pada seseorang yang memiliki kekuasaan namun seseorang tersebut mengijinkan terwujudnya culture of silence atau budaya diam, artinya individu tersebut  memilih untuk bungkam terhadap segala bentuk penindasan dan tidak  berupaya untuk memperoleh keadilan. Melanie Trump sebagai First Lady di Amerika serikat yang diyakini memiliki hak-hak istimewa kerap kali diberitakan menjadi korban penindasan dari suaminya yang sekaligus menjabat sebagai presiden Amerika serikat. Dalam beberapa kesempatan wawancara yang melibatkan keduanya baik Donald Trump maupun Melanie Trump, beberapa pertanyaan diutarakan kepada Melanie Trump, namun suaminya, Donald Trump tidak pernah memberikan kesempatan pada Melanie untuk menyuarakan pendapatnya. Dan lebih buruknya, di lain kesempatan Melanie justru terlihat enggan untuk menjawab semua pertanyaan yang ditujukan padanya dan memilih untuk diam.

Perempuan memang seringkali termarginalkan, dijadikan korban dari segala bentuk ketidaksetaraan dan terlilit oleh stereotip-stereotip seperti lemah, tidak berdaya tanpa kaum lelaki dan lain sebagainya. Namun seharusnya baik perempuan maupun kaum-kaum yang termarginalkan harus menyadari bahwasannya cara yang paling tepat untuk mengakhiri ketidakberdayaan adalah menjadi sadar akan segala sesuatu yang terjadi disekitar mereka. Sadar akan perlakuan yang didapatkan, Sadar bagaimana masyarakat telah membentuk stereotipe-stereotipe tertentu yang menjadikan perempuan atau kelompok minoritas menjadi semakin termarginalkan dan lain sebagainya. Yang mana kesadaran tersebut tentunya dapat didapat melalui pendidikan baik formal maupun non-formal, literasi, dan refleksi diri untuk mengidentifikasi siapa kita, apa yang kita percaya dan yakini dan mengapa kita berperilaku sedemikian rupa.

Suara kita lah yang membebaskan diri kita…

Referensi: