Cultural Memory and Indo-Dutch Identity Formations

de_zeven_provincic3abn_1910

Membaca blog seorang penulis buku dari Belanda yang bernama Inez Hollander dengan judul tulisan di blognya Indonesian Pilgrimage Part 1 dan seterusnya membuat saya tersadarkan bahwasannya tidak semua penjajah Belanda merasa bahagia dan disambut dengan meriah seperti yang sering kita tonton di film-film ketika mereka bertolak balik ke negeri mereka sehabis berperang. Dalam tulisannya yang terasa seperi diary pribadi, membacanya menjadikan saya sangat emosional, bagaimana ia menceritakan keluarganya yang dibayang-bayangi kehidupan masa penjajahan, pengalaman-pengalaman pahit keluarganya semasa perang, bahkan perasaan rindu keluarganya terhadap Indonesia dan sulitnya untuk berasimilasi di negeri sendiri. Hollander sebagai generasi kedua tentunya tidak bisa merasakan apa yang orang tuanya rasakan, karena ia dilahirkan di belanda dan ia hanya bisa mendengarkan cerita-cerita mengenai penjajahan dari kerabatnya. Proses dekolonialisasi yang terjadi begitu cepat dan kacau membuat generasi kedua seperti dirinya juga merasa tidak dapat terhubung kembali dengan akar keluarga mereka di Indonesia. Sehingga untuk mendapatkan koneksi tersebut Ia menceritakan bagaimana ia pada akhirnya mengunjugi Indonesia untuk menggali dan mencari akar keluarganya juga bagaimana ia ingin membangun atau menggali identitas akan dirinya yang ia rasakan berada ditengah tengah yakni di antara belanda dan Indonesia.

Digambarkan bagaimana ia melihat perkebunan yang dahulunya milik kakek nya, yang oleh penduduk setempat dinamai dengan nama kakeknya,  mesin-mesin manual dan tua yang ditinggalkan disana namun masih digunakan oleh penduduk setempat. Digambarkan pula bagaimana ia merasa sangat malu dan merasa bersalah akan apa yang telah dilakukan orang-orang Belanda terdahulu di masa perang. Serta merasakan kedekatan emosional terhadap Indonesia tetapi tentunya berbeda dengan yang orang tuanya rasakan.

Cerita pembuka diatas saya harap mampu memudahkan kita dalam memahami jurnal yang ditulisakan oleh Pamela Pattynama yang berjudul Cultural Memory and Indo-Dutch Identity Formation. Pattynama menjelaskan bagaimana Memori memang memainkan peran yang penting dalam hal pembentukan identitas. Memori itu sendiri merupakan hasil dari proses perpaduan unsur-unsur sosial, budaya dan politik. Tetapi memori menurut Pattynama paling tepat disebut sebagai sebuah fenomena budaya yang terjadi secara personal atau dalam lingkup sosial. Maksud dari statement Pattynama tersebut berakar dari argumen Halbwachs yang menyatakan bahwasannya memori merupakan proses sosial yang terbentuk dari dua poin penting.

Poin pertama, sejarah masa lalu yang dikonstruksi oleh orang-orang saat ini, yang baik secara sengaja maupun tidak sengaja dibentuk atau dibentuk kembali untuk memenuhi kebutuhan serta minat kontemporer mereka. Poin kedua yakni sejarah masa lalu yang dibagikan oleh setiap anggota dalam kelompok demi pembentukan serta pelestarian atau pemeliharaan identitas kelompok. Memory komunitas inilah yang menghubungkan tiap individu dengan aspek kolektif sosial yang biasanya dilakukan dalam kelompok, keluarga, migran, etnis tertentu dan status kewarganegaraan tertentu. Melalui memori komunitas ini seorang individu juga seolah diarahkan kepada hal-hal mana yang seharusnya dingat dan mana yang seharusnya dilupakan agar dapat meningkatkan rasa keterikatan, kebersamaan dalam kelompok serta identitas kelompok.

dutch_migrant_1954_mariascholte3d50000thtoaustraliapostww2

Dalam konteks pembentukan identitas Indo-Dutch kemudian menurut Pattynama memori kultural ini memainkan peran yang penting dalam menjelaskan pembentukan identitas mereka yang tercermin dalam pembentukan identitas generasi pertama dan generasi kedua dari Indo-Dutch.

Merujuk pada definisi memori kultural diatas kemudian sejarah dari Indo-Dutch ini kemudian relevan untuk dibahas guna mengetahui proses pembentukan identitas Indo-Dutch. Peristiwa Kekalahan Belanda dalam penjajahannya di indonesia pada tahun 1945-1949 memaksa para penjajah belanda untuk pulang ke negara asalnya. Meskipun sebenarnya tidak semua pasukan penjajah tersebut pernah melihat tanah belanda karena sebagian dari mereka dilahirkan di Indonesia. Hal yang wajar dilihat ketika para “totoks” (orang atau keturunan belanda murni) berpulang ke negaranya. Tetapi sayangnya terdapat kebijakan yang dibuat oleh negara Belanda yang bisa dibilang sebagai kebijakan yang rasis, yakni mixed blood/mulatto atau keturunan campuran Indonesia-Belanda harus melepaskan identitas mereka sebagai orang Belanda dan diharuskan untuk tetap tinggal di Indonesia walaupun mereka secara emosional dan sejarah merasa sangat terhubung dengan negeri Belanda. Tetapi dengan semakin banyaknya golongan mixed race yang membanjiri Belanda, pemerintah kemudian menerima mereka dengan alasan politis dengan syarat untuk belajar dan mengikuti aturan yang berlaku di Belanda dan berasimilasi.

Walaupun demikian Immigran Indo-Dutch ini merasa bahwasannya mereka adalah sebuah masalah bagi negara belanda yang pada saat itu sedang dalam pengaruh kekuasaan Jerman dan tidak adanya sambutan hangat terhadap mereka oleh negara Belanda mengenai  kedatangan mereka di negerinya. Mereka benar-benar merasa dibungkam karena cerita-cerita serta memori-memori mereka dilupakan dan disembunyikan. Bahkan rasa kecewa akan sedikitnya pengakuan dan pengalaman-pegalaman yang telah mereka alami di Indonesia masih dirasakan sampai saat ini. Bukan hanya tidak diterima dengan tangan terbuka, mereka yang lahir dan tumbuh besar di Indonesia yang beberapa diantaranya merupakan mixed blood/mullato merasa dirinya tidak dapat sepenuhnya berasimilasi dengan buadaya asli Belanda. Lebih buruknya bagi mereka yang berdarah campuran, perbedaan fisik dengan kaum asli Belanda membuat mereka merasa kehilangan identitas.

Tetapi pada akhir tahun 1960an. Pengalaman-pengalaman yang dianggap sebagai rahasia negara tersebut mulai diangkat diruang publik yang kemudian memicu reaktivasi kenangan atau memori yang berkaitan dengan dekolonisasi, hal inilah yang menandai perubahan dramatis dalam kenangan penjajahan di masa lalu kolonial. Seperti munculnya perasaan bersalah belanda terhadap indonesia sebagai korban dari rasisme, ekploitasi dan kejahatan perang, serta rasa kehilangan koloni yang berharga. Tetapi tidak lama setelah banyak imigran dari negara-negara lain berdatangan ke belanda untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak, seperti imigran dari Maroko, Turki dan lain sebagainya, kemudian hal ini sekali lagi memicu penolakan Belanda terhadap Imigran yang juga berdampak pada persepsi diri dari migran dan kelompok imigran. Proses-proses dan keadaan seperti proses perpindahan, multikulturalisme dan globalisme berdampak pada bagaimana kelompok minoritas (yang mana Indo-Dutch termasuk di dalamnya) dilihat dan bagaimana mereka melihat diri mereka sendiri.

Berbeda dengan generasi pertama, yang merasa terbungkam, tersesat, dengan segala kesulitannya yang digambarkan sulit untuk berasimilasi, dan mencoba untuk melupakan memori-memori mengenai pengalaman kolonial. Generasi kedua yang lahir di Belanda justru menolak untuk terbungkam dan menentang penolakan kolonial terhadap akar keluarga mereka di Indonesia, yang mana hal ini tercermin dalam tulisan-tulisan mereka, seperti sebuah novel karya Marion Bloem yang berjudul Geen Gewoon, Adriaan van Dis yang berjudul Nathan Sid, Alfred Birney yang berjudul Yournel van Cyberney. Bahkan tulisan blog milik Hollander yang saya sebutkan di awal.

Memori kultural para migran post-kolonial yang dibentuk dan bertransformasi seiring dengan berbagai fenomena yang terjadi dan berjalannya waktu membentuk memori-memori yang berbeda pula antar generasi. Gagasan utama dari memori kultural ini juga membuka peluang untuk memahami bagaimana identitas migran post-kolonial dibentuk dan diubah oleh proses dekolonisasi melalui pembentukan memori kultural.

Referensi:

Pattynama, P. (2012). Cultural Memory and Indo-Dutch Identity Formations, dalam Bosma, U. (ed) Post-colonial immigrants and identity formation in the Netherlands bab 9 hal 175-192

https://inezhollander.wordpress.com/2015/09/26/indonesian-pilgrimage-part-i/

Iklan