Jamming the Political: beyond counter-hegemonic practices

Cultural jamming secara umum dapat dimaknai sebagai upaya yang mengusik, perlawanan atau serangan pada kekuatan yang mendominasi publik dalam bentuk penggunaan gambar-gambar, tanda-tanda yang memanipulasi makna sebenarnya dan menyesatkan publik.  Cultural Jamming juga dimaknai sebagai sikap perlawanan terhadap kemapanan, kemapanan yang bersifat mendiktekan keinginan para kelompok dominan terhadap orang  lain. Kemapanan disini adalah berupa aturan, nilai dan struktur-struktur yang diciptakan para penguasa baik itu pemilik modal, pemegang kuasa atau pemimpin. Sedangkan para pelaku dari jamming ini disebut sebagai jammer.

Pada awalnya cultural jamming merupakan suatu gerakan yang keberadaannya muncul didasarkan pada sikap anti kapitalisme, dan menjadikan karya seni seperti lukisan, gambar, tanda, grafitti sebagai sarana bagi perwujudan sikap kontra mereka terhadap segala produk dari kapitalisme ini. Tetapi walaupun cultural jamming ini bersifat politis karena dinilai sebagai bentuk reaksi penolakan atau perlawanan terhadap dominasi dari komodifikasi yang dibentuk oleh multi korporasi maupun kapitalis global, tetapi fokusnya lebih untuk menyerang atau mengusik para kapitalis ini dan tidak begitu banyak fokus terhadap dunia politik.

Bentuk dari cultural jamming ini dapat berupa karya seni atau gambar, memes di internet, grafitti, photo-doctoring atau photo-editing yang di plesetkan dengan teks yang bermakna serta berintensi serius.  Dalam prakteknya, aksi para jammers adalah semacam gerilya tanda kepada masyarakat baik dengan cara merusak sebuah karya (billboard, iklan, logo, poster, lukisan atau sculpture) atau dengan memparodikan bahkan mengaburkan sebuah karya. Seperti berikut :

Sumber

Sedangkan political jamming adalah penggunaan teknik cultural jamming oleh pemeran politik (politikus) juga warga negara (masyarakat) dalam berkomunikasi politik baik dalam lingkup mainstream public (lingkup publik dominan yakni negara dan pasar) maupun kontradiksi nya yakni counter-public. Jamming politik ini juga perlu dilihat sebagai sebuah cara untuk mengatasi kekacauan realitas, discourse yang bersifat melawan, yang menggunakan cara-cara seperti humor, pengejekan, satire dan parodi. Political jamming ini juga bukan hanya dilakukan oleh para aktivis untuk menegakkan keadilan tetapi juga untuk mempermalukan. Membuat bahan bercandaan atau bahkan menjadikan korban seseorang individu atau kelompok yang dianggap musuh bersama.

Fokus dari jamming politik berbeda dengan cultural jamming, sesuai dengan namanya ia lebih fokus kepada permasalahan politik seperti perlawanan terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah, perlawanan terhadap aktor politik seperti partai politik, perlawanan terhadap perilaku yang tidak diinginkan yang terjadi di masyarakat, atau bahkan bentuk perlawanan terhadap kelompok minoritas di masyarakat.

Bentuk-bentuk dari jamming tersebut dapat dilakukan dalam beberapa acara yakni dengan aksi turun di jalan atau aksi demonstrasi dengan menggunakan atau menyebarkan brosur atau membawa poster, melalui media mainstream yakni dalam program-program yang mengusung unsur-unsur humor yang bermakna sindiran. Dan kini berkembang kepada pemanfaatan internet, yang sering kita jumpai dalam bentuk-bentuk memes misalnya.

Seperti yang dicontohkan Cammaerts adalah bagaimana seseorang yang bernama Peretti memanfaatkan kesempatan disaat brand Nike membentuk strategi yang mengijinkan para customer Nike untuk menambahkan kata atau slogan pada sepatu mereka. Hal ini tentunya merupakan bentuk dari strategi pemasaran mereka. Namun, Peretti justru memilih kata “sweatshop” yang memiliki arti tempat dimana para pekerja buruh perusahaan bekerja banting tulang dengan gaji yang rendah, ide Peretti ini tentunya ditolak oleh Nike, tetapi yang membuat hal ini dapat disebut sebagai jam yang berhasil adalah peretti mempublikasikan percakapan mereka mengenai hal tersebut di internet, yang kemudian dalam waktu yang tidak lama permasalahan ini tersebar ke seluruh dunia dan dinilai berhasil mempermalukan atau bahkan merugikan Nike.

Di Indonesia sendiri terdapat website yang khusus untuk memuat jams-jams terutama political jamming yakni posronda.net.

Tetapi walaupun penggunaan internet bisa dibilang sebagai alat distribusi jamming yang  mumpuni yakni dengan segala kelebihannya seperti biaya yang murah, dapat menjangkau masyarakat secara cepat dan luas, tetapi menurut Cammaerts dalam jurnalnya, masih sulit untuk mengukur seberapa besar dan jauh distribusi jamming tersebut.

Lantas kemudian pertanyaannya adalah, walaupun semua pendekatan yang telah disebutkan diatas telah dilakukan, mampukah hal ini kemudian mengusik atau menggoyangkan kekuasaan hegemoni? Jawabannya menurut Cammaerts dalam kesimpulannya adalah tentu bisa tetapi tidak langsung.  Butuh waktu yang lama dan proses yang panjang untuk dapat merubah nilai-nilai sosial/politik/budaya.

Lagipula menurut Cammaerts jamming yang berfokus pada dunia politik bersifat lebih sukar untuk dilakukan karena faktor-faktor seperti beragamnya ideologi dari audiens, serta lebih bersifat sensitif terhadap kebencian dan kekerasan contohnya dalam konteks permasalahan SARA.

Bahkan menurutnya strategi jamming ini sebenarnya kini dinilai kurang progresif lagi, dan kurang ideal dalam hal mencerahkan publik, dan juga tidak bisa secara langsung melawan status quo. Hal ini dikarenakan kini aktor politik, masyarakat umum, aktivis, serta perusahaan-perusahaan multinasional juga menggunakan teknik jamming sebagai strategi komunikasi, yang mana hal ini disebut Cammaerts sebagai “unjamming the jam to speak”. Sedangkan jamming yang disiarkan oleh media mainstream hanya cenderung bersifat menghibur saja yang mana hal ini kemudian oleh Baudriliad’s (1987) disebutnya sebagai “noise amongst other noises”.

Referensi :

Bart, Cammaerts. 2007. Jamming the Political : Beyond Counter-Hegemonic Practices. LSE Research Online

 

Iklan

5 pemikiran pada “Jamming the Political: beyond counter-hegemonic practices

  1. 1 Mei sebagai hari buruh, kalau aku melihatnya sebagai hari demo seindonesia. Peringatan hari buruh selalu diwarnai demo-demo dari yang beradab sampai anarkis, atau setidaknya sifatnya masokis yang sebenarnya merugikan para buruh — yang sebenarnya mereka meminoritaskan diri mereka sendiri. Salah satu alasan mengapa 1 Mei menjadi tanggal merah adalah demo buruh ini tidak sukarela. Mereka melakukan sweeping, memaksa buruh-buruh lain ikut berdemo dan menutup pabrik yang masih berjalan kalau ketahuan. Demo ini adalah bentuk perlawanan atau jamming yang disebutkan Zaza di atas, kan ya.. ironisnya, serikat buruh inipun dibentuk dengan sistem kapitalisme juga. Buruh harus membayar iuran dan seluruh keuangan dipegang petinggi serikat tersebut. Usaha jamming tidak akan bisa mengguncang hegemoni, jika kelompok minoritas hanya ‘tampak’ berusaha melawan padahal bentuk perlawanan itu kosong..

    Suka

  2. Kalimat yang aku garis bawahi ada di akhir paragraf, bahwa tidak selamanya political jamming ini bernada positif dengan berpihak pada mereka yang tertindas. Sebaliknya, apa yang kutangkap, political jamming juga bisa digunakan untuk saling menindas dan menyerang melalui berbagai bentuk karya seni yang tendensius. Apalagi orang Indonesia ini kreativitasnya luar biasa ya, segala macam hal yang bahkan ga pernah terlintas untuk dijadikan satire, bisa jadi satire di negara ini..

    Kemudian juga terkait peran internet, internet memang menawarkan beragam kemudahan. Namun, media mainstream juga memiliki perannya tersendiri yang tidak bisa terganti, misalnya program acara TV sentilan sentilun yang berisikan kritik dan dikemas secara ringan melalui humor, atau juga rubrik-rubrik pojok pada surat kabar harian yang berisikan hal yang serupa. Seperti apa yang dikuti Cammaerts dalam artikelnya, yakni tentang metafora rhizome. Bahwa semua saling terkait dan saling terhubung.

    Suka

  3. aku mendadak berfikir, adanya barang KW, beberapa nama warung yang menyerupai nama resto besar (misalnya warkop SETARBAK KOPI di Surabaya) itu apakah salah satu bentuk cultural jamming ya? atau mereka justru terbawa arus?
    tapi bagaimanapun aktivitas konsumsi akan kembali pada kapitalisme. sekarang tergantung kita bagaimana menyikapi dan mengajarkan (setidaknya pada keluarga terdekat kita) untuk mengatasi itu.

    Suka

  4. Adanya cultural jamming maupun political jamming ini membuat saya menjadi sadar bahwa kekuatan teknologi informasi dan komunikasi itu membuat para penggunanya tidak diam saja melihat arus kapitalisme maupun politik. Seperti gambar-gambar cultural jamming yang mba zaza contohkan, terdapat murder king maupun six bucks coffe, itu menunjukkan adanya perlawanan terhadap kapitalis, bahwa makanan-makanan tersebut mahal dan tidak baik bagi kesehatan. Ini menunjukkan bahwa TIK merupakan wadah yang tepat untuk menyampaikan aspirasi, terutama dari kelompok-kelompok marjinal.

    Suka

  5. Mengacu pada kutipan tulisan dari artikel di atas: ‘jamming politik ini juga perlu dilihat sebagai sebuah cara untuk mengatasi kekacauan realitas, discourse yang bersifat melawan, yang menggunakan cara-cara seperti humor, pengejekan, satire dan parodi,’ maka ada satu pertanyaan buat mbak Zaza, yakni apakah mbak Zaza pernah melakukan political jamming dalam kehidupan sehari-hari? Kalau sudah, contohnya seperti apa?, Kalau belum, kenapa?, karena menurut saya, political jamming dapat dilakukan dalam lingkup yang sederhana (konteks keluarga, kampung, sekolah dan lain sebagainya), serta tidak harus isunya dalam lingkup nasional/global.
    #041, #SIK041

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s