Living the VirtuReal: Negotiating Transgender Identity in Cyberspace

israel

Ketika kita hendak berbicara mengenai transgender, tentunya hal ini tidak terlepaskan dari istilah LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual dan Transgender) yang mana di Indonesia mereka merupakan kelompok marjinal yang termajinalkan dalam berbagai aspek kehidupan seperti pekerjaan, pendidikan, pelayanan kesehatan dan banyak lagi. Bahkan BBC News mengklaim terdapat 89,3% kaum LGBT di Indonesia yang pernah mendapat perlakuan kekerasan dan diskriminasi. Tindak kekerasan tersebut meliputi: fisik, psikis, seksual, ekonomi, dan budaya.

Kasus diskriminasi terhadap kaum transgender yang sering kita dengar ini tentunya bukan hanya terjadi di Indonesia. Avi Marciano dalam Jurnalnya mencoba untuk meneliti tentang bagaimana komunitas transgender di Israel yang juga mengalami permasalahan dan hambatan-hambatan yang sama yang mereka peroleh di kehidupan nyata seperti diskriminasi, kekerasan dan lain sebagainya, mampu mengatur siasat mereka dalam hal ini adalah memanfaatkan internet untuk mengatasi permasalahan-pemasalahan dan hambatan-hambatan tersebut.

gay-boy

Tetapi mengapa diskriminasi dan perlakuan kekerasan terhadap kelompok transgender ini bisa terjadi? Jawabannya menurut (West & Fenstermarker, 1995 dalam Marciano 2014)  adalah karena gender merupakan suatu konsep yang dibentuk oleh masyarakat, oleh karena hal itu, individu diharapkan mampu berperilaku atau memainkan peran sesuai dengan peran gender yang berlaku di masyarakat. Artinya, jika individu berperilaku tidak sesuai atau berlawanan dengan nilai-nilai yang dibentuk masyarakat contohnya dengan menjadi transgender, maka individu tersebut akan menuai banyak permasalahan seperti diskriminasi, cacian, dan lain sebagainya seperti dalam berbagai kasus berikut: Lelaki Transgender yang DibuiDibunuh oleh Ayah Kandung karena GayDipecat dari Tempat Kerja karena Gay.

internet

Internet memang memiliki tempat yang spesial bagi kaum marjinal. Hal ini dikarenakan internet memiliki sifat “empowering” atau memberdayakan. Berbagai penelitian telah menyepakati adanya pengaruh positif yang diberikan internet kepada kaum marjinal atau minoritas, yakni termasuk kelompok transgender. Pertama, internet mampu menjadi sumber informasi yang tiada batas, internet juga mampu memberi dukungan dan konsultasi gratis karena melalui internet kaum transgender dapat saling berinteraksi satu sama lain, dapat tergabung dalam komunitas transgender lokal maupun global dan saling membagi pengalaman mereka satu sama lain yang mana pengalaman ini mengurangi perasaan terisolasi.

Kedua, internet mampu mengurangi tantangan atau hambatan dalam urusan teknis dan komunal. Contohnya bagaimana di internet kelompok transgender dapat dengan mudah membentuk suatu komunitas, atau organisasi tanpa membutuhkan persetujuan dari lembaga masyarakat.

Ketiga, internet mampu menjadi platform atau wadah bagi kelompok transgender untuk menjadi diri mereka sendiri,  karena di dunia nyata mereka tidak bisa mengekspresikan diri mereka secara bebas dan cenderung untuk menutup-nutupi identitas asli mereka untuk menghindari sanksi sosial. Istilah ini oleh Goofman disebut sebagai front-stage dan Backstagefront-stage adalah bagaimana kita menampilkan diri kita dihadapan publik. Sedangkan Backstage adalah arena yang privat dan aman bagi kita untuk menjadi diri kita sendiri.

Tetapi walaupun individu transgender sama-sama memanfaatkan internet, menurut Marciano individu transgender memiliki level pemanfaatan internet yang berbeda yakni meliputi preliminary, complementary dan alternative. Lingkup preliminary, merupakan pengunaan internet sebagai tahap persiapan, dalam lingkup ini individu transgender dapat mengalami pengalaman-pengalaman sebelum benar-benar terjun dalam dunia nyata.  Contohnya adalah pengalaman-pengalaman seperti menjalin hubungan romantis secara virtual yang mungkin diharapkan mampu menjadi hubungan romantis yang menjadi kenyataan di dunia nyata. Dalam lingkup Complementary, individu transgender menggunakan internet sebagai pelengkap dari kehidupan offline mereka. Contohnya adalah individu transgender yang menggunakan internet sebagai sumber informasi atau untuk bergabung dalam komunitas transgender tertentu misalnya, yang mana identitas offline dan online mereka tidak jauh berbeda atau bahkan sama, seperti penggunaan nama asli di dunia maya. Berbeda dengan keduanya, individu transgender dalam lingkup alternative cenderung untuk menggunakan identitas yang berbeda bahkan bersifat kontradiktif dengan kehidupan offline mereka. Misalnya, perempuan yang menyembunyikan identitas biologisnya yakni dengan menjadi laki-laki di dunia maya karena keinginannya untuk merasakan menjadi seorang laki-laki yang seutuhnya. Dalam hal ini internet dinilai sangat bermanfaat dimana mereka dapat menjadi seseorang yang benar-benar mereka inginkan baik laki-laki ataupun perempuan tanpa harus menjalani operasi trans-sex.

Dalam penutupnya Marciano berargumen bahwasannya melihat kehidupan seorang transgender di internet, terutama dalam lingkup alternative ini seolah-olah membantah penelitian-penelitian terdahulu yang berbicara tentang perbedaan kehidupan dan identitas para individu transgender di dunia offline dan online. Hal ini dikarenakan dalam lingkup alternative bukan berarti para transgender ini benar-benar menjadi individu yang beridentitas palsu tetapi sebenarnya justru pararel karena individu transgender ini mampu menggunakan identitas asli yang mereka yakini sebagai dirinya bukan identitas yang diharapkan oleh masyrakat dan bersifat dipaksakan. Oleh karena hal tersebut Marciano menyimpulkan bahwasannya ruang lingkup online yang diciptakan oleh kaum transgender dapat dilihat sebagai dunia Virtu-Real, yakni sebuah istilah yang merefleksikan kedua fakta yakni fakta bahwasannya dunia maya mampu menjadikan sarana penyeimbang posisi marjinal mereka di dunia nyata, dan fakta bahwa mereka masih menjadi subjek dari pembatasan-pembatasan di dunia nyata. istilah ini kemudian menengahi konsep antara virtual of reality dan real virtuality.

Sayangnya kelompok transgender di Indonesia belum dapat memanfaatkan internet secara bebas dan leluasa seperti komunitas transgender di Israel. Mereka cenderung untuk bersembunyi karena pemerintah masih belum bisa memberikan kesetaraan hak kepada kelompok transgender yakni dalam konteks ini adalah kebebasan untuk menggunakan internet. Terbukti dengan berbagai aksi pemblokiran situs-situs dan aplikasi-aplikasi yang berbau LGBT, bahkan seperti yang kita tahu saat ini konten-konten dalam televisi misalnya dilarang menampilkan konten-konten yang berbau LBGT.

Tentu yang diharapkan dari kesetaraan hak bagi kaum transgender disini bukan berarti pemerintah Indonesia harus melegalkan pernikahan sesama jenis seperti yang sudah diberlakukan di berbagai negara barat, tetapi cukup dengan memanusiakan mereka dan tidak perlu berlebihan melihat mereka sebagai ancaman bagi seluruh umat.

Referensi:

Marciano, Avi. 2014. Living in the VIrtuReal: Negotiating Transgender Identity in Cyber Space. Journal of Computer-Mediated Communication 824-838. International Communication Association.

http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2014/08/140814_lgbt_indonesia

http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/09/160915_indonesia_pemblokiran_aplikasi

Iklan

7 pemikiran pada “Living the VirtuReal: Negotiating Transgender Identity in Cyberspace

  1. menarik ya jurnal Avi Marciano ini. Bagaimanapun negosiasi identitas transgender dalam berbagai pola-nya dipengaruhi banyak faktor, mulai dari kebijakan di negara tersebut, bagaimana penerimaan masyarakatnya dan tergantung pada individu dari si transgender itu sendiri ya.

    Suka

  2. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa di dunia online, seorang transgender bisa menunjukkan identitasnya sebagai transgender tanpa khawatir mendapat penolakan yang besar dari masyarakat dibandingkan dengan ketika dia mengungkapkan identitasnya di ranah nyata.

    Suka

    1. Dalam konteks Indonesia seperti yang ditulis Mba Zaza di review, dikarenakan belum ada penerimaan dari masyarakat kita terhadap kelompok2 seperti LGBT, ditambah adanya pemblokiran situs-situs dan grup berbau LGBT, mungkin masih agak susah yah bagi kelompok yang termarjinalkan ini untuk bergerak di dunia maya sekalipun. Mungkin bisa, namun hanya di aplikasi tertentu seperti chat group whatsapp, blackberry messanger, dan line yang sifatnya lebih privat. Namun, untuk mempertemukan mereka sebagai satu kelompok, mungkin agak susah yahh.. Kecuali lewat forum-forum khusus LGBT, kemudian baru bertukar kontak… Intinya ruang gerak mereka di dunia maya sekalipun masih terbatas yah..

      Suka

  3. Ada komunitas-komunitas yang memanfaatkan internet, membuat sebuah situs game role-play yang isinya adalah setiap orang bisa membuat karakter dengan tema utama cerita homo atau lesbian. Dalam kasus ini, beberapa pemain RP tersebut kisah asmaranya terbawa sampai ke dunia nyata, dan ini terjadi di Indonesia. Internet terkadang dipandang memfasilitasi komunikasi, namun dikhawatirkan pula disalahgunakan untuk menyebarkan informasi atau nilai yang tak pantas. Bukan LGBT yang ku anggap tak pantas, yaa.. tapi, ketakutan akan penipuan karena pemalsuan identitas seperti kasus pedofilia baru-baru ini.

    Suka

  4. Mengutip dua tulisan di atas, pertama: ‘…tetapi cukup untuk memanusiakan mereka dan tidak perlu berlebihan melihat mereka sebagai ancaman bagi seluruh umat.’ Lalu kedua: ‘…bukan berarti Pemerintah Indonesia harus melegalkan pernikahan sesama jenis…’ Menurut penilaian Saya, dua kutipan tulisan tersebut kontra/berseberangan. Maaf sebelumnya, Mbak Zaza menginginkan kaum transgender dimanusiakan, tetapi menolak pernikahan mereka. Ibarat memberi saran, Mbak Zaza terkesan setengah-setengah, atau bahkan terkesan seperti menolak atas keberadaan mereka. Terlepas dari pembahasan berkonteks agama, seharusnya keberadaan transgender ini diakui dan diterima sepenuhnya termasuk pernikahan mereka, karena fenomena LGBT memang benar-benar ada di tengah masyarakat kita. Bagaimana tanggapan Mbak Zaza atas komentar Saya ini?, terimakasih.
    #041, #SIK041

    Suka

    1. Terkait dengan pertanyaan mas yuli, bukan berarti saya sedang memberi saran yang setengah tengah mas, yang saya katakan bukan menolak pernikahan sesama jenis tetapi pemerintah bukan berarti harus mengesahkan pernikahan sesama jenis secara seketika ketika berbicara tentang kesetaraan hak bagi kaum LGBT di Indonesia, karena hal ini jelas masih jauh dari jangkauan masyarakat kita dan tidak terpikirkan oleh pemerintah kita, sementara yang kita tahu pemerintah kita masih berhenti pada persoalan tentang bagaimana maraknya lgbt ini yang dianggap sebagai virus menular yang dalam hal ini tentu bersifat tidak memanusiakan kaum LGBT. Permasalahan inilah yang pertama harus diatasi yakni mengenai persepsi pemerintah yang kemudian berakibat pada homophobia publik.

      Suka

  5. Meskipun internet bersifat empowering, terutama juga bagi kelompok minoritas, namun di internet juga bullying bisa sangat sengit terjadi ya. Mulai dari ejekan-ejekan yang biasa didengar hingga pembunuhan karakter. Jadi, setuju sama pendapat farisha, bahwa pada akhirnya lebih privat grup-grup chat yang sesama anggotanya saling mengenal, dan hanya yang punya preferensi sama yang bisa bergabung..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s