A Review of Veiled Fantasies: cultural and sexual difference in the discourse of Orientalism 

Gambar di pinjam dari sini 

Veiled fantasies: cultural and sexual difference in the discourse of Orientalism adalah chapter kedua dari buku yang berjudul Colonial Fantasies: Toward a feminist reading of Orientalism, Well, it’s not an easy reading book, tetapi bagian kedua ini saya rasa sangat menarik.

Veil atau kerudung yang dikenakan para perempuan oriental atau timur dianggap sebagai penghalang yang menciptakan jarak antara perempuan oriental dari tatapan dan hasrat akan keingin-tahuan orang-orang barat tentang perempuan oriental. Merasa frustasi dengan ketidakmampuannya untuk memandang dan mengakses figur yang misterius ini, maka orang-orang barat menyebutnya sebagai “enigmatic” atau sesuatu yang aneh dan penuh dengan teka-teki.

Salah satu contoh yang mencolok yang dituliskan adalah bagaimana kolonialisme perancis terobsesi dengan kerudung yang dikenakan oleh perempuan Aljazair. Dengan landasan kerudung menghalangi tatapan para penjajah yang diyakini ingin mengontrol melalui “kemampuan untuk melihat” (kemampuan untuk melihat dan transparansi disini artinya menolak segala sesuatu yang bersifat tak dapat terungkap atau tak terekspos agar mampu mengontrol) perempuan aljazair  dinilai bersembunyi dibalik kerudung mereka yang kemudian menjadi hambatan bagi para penjajah untuk menguasi. Namun, bukan hanya perihal ketidakmampuannya  untuk mengontrol melalui hambatan visual tetapi para penjajah ini merasa tercurangi karena perempuan Aljazair ini mampu melihat tanpa bisa dilihat, karena seluruh tubuhnya tertupi dan hanya matanya yang terlihat “the veiled woman can see without being seen” (p. 43)

Lalu mengapa para perempuan Algeria dinilai memegang perananan yang penting? Para penjajah perancis menilai jika mereka ingin menghancurkan struktur masyarakat Aljazair yang memiliki perlawanan terhadap nilai-nilai yang dibawa penjajah perancis maka pertama-tama mereka harus dapat menaklukkan perempuannya dahulu yakni dengan cara mencari tahu apa yang disembunyikan perempuan-perempuan tersebut dibalik kerudungnya dan di dalam rumah-rumah mereka dimana laki-laki mereka menyembunyikan perempuan-perempuannya dari pandangan orang lain.

Karena hambatan tersebut penjajajah perancis kemudian mulai membuat doktrin politik bahwasannya perempuan muslim diklasifikasikan sebagai kelompok yang bersembunyi, bertopeng, kelompok yang penuh dengan tipuan dan “salah” yang harus diasingkan, mendapatkan pelatihan, di benarkan, diluruskan dan di normalkan. Menurut Meyda Perempuan Aljazair sebenarnya sudah menjadi “the other” dalam budayanya karena peranan gender yang berlaku dalam masyarakat seperti aturan-aturan berpakaian, namun mereka lebih menjadi “the other” lagi  dalam pandangan budaya barat karena “veil” atau kerudung yang perempuan kenakan disana bukan hanya diartikan sebagai penanda akan sebuah identitas yang bisa disukai atau tidak disukai, menjadi identitas yang baik atau buruk tetapi juga menjadi fantasi-fantasi yang brutal. Fantasi-fantasi tentang mimpi orang eropa terhadap perempuan Aljazair tergambar dalam drama orang Eropa yang seringkali menggambarkan adegan pemerkosan dengan konten-konten kekerasan terhadap perempuan-perempuan Aljazair dengan adegan terkoyaknya atau perobekan pada kerudung perempuan Aljazair. Bentuk-bentuk sadisme tersebut sebenarnya menurut Fanon (p. 43) justru menegaskan tentang ketakutan orang Eropa atas ketidakmampuannya untuk melihat dan mengontrol perilaku perempuan Aljazair yang tertutup dan dinilai penuh dengan rahasia. Para penjajah ini merasa terancam dan dirayu secara bersamaan (p.45).

Kerudung seolah menarik perhatian untuk dilihat, dan memaksa seseorang untuk berpikir dan berspekulasi tentang apa yang ada dibaliknya. Kerudung sering kali digambarkan sebagai topeng untuk perempuan bersembunyi. Kerudung juga dilihat sebagai bentuk yang menyembunyikan kebenaran dan disaat yang bersamaan juga membuka kebenaran tentang keberadaan perempuan, yakni sebagai seseorang yang selalu ada dalam penyamaran dan bersembunyi “A being which exist only behind its veil”.

Pada poin ini kemudian kerudung disamakan sebagai sebuah bentuk konstruksi feminitas dalam sistem patriarki,  karena menurut Nietzsche (p. 51) “she adorn herself and by adorning herself she seduces and fascinates man” yang artinya dengan perempuan berdandan atau merias dirinya sendiri artinya dia sedang menggoda dan menyenangkan laki-laki. Meyda kemudian melanjutkan “the nature of feminity and the nature of the Orient are figured as one and the same thing in these representation” (p.56) lalu mengapa karakteristik dari feminitas dan karakteristik dari orang oriental atau timur disamakan? Dia kemudian menjawab bahwasannya baik orang barat, maupun ahli kajian timur (Orientalist) baik mereka itu adalah  laki-laki atau perempuan, mereka selalu berakhir memposisikan diri mereka sebagai “masculine” karena mereka semua sama-sama memiliki hasrat untuk melihat, mengetahui, mengontrol dan menyingkap “veil” yang dikenakan oleh perempuan oriental atau perempuan pada umumnya.
Referensi :

Yegenoglu Meyda.  1998. Colonial fantasies: Toward a feminist reading of Orientalism.  Cambridge University Press.  United Kingdom.

Iklan

Social Dominance Theory (SDT)

gambar di pinjam dari sini

SDT atau teori dominasi sosial digunakan untuk menguji bagaimana masyarakat mengatur dirinya sendiri sebagai suatu kelompok yang berdasar pada hirarki sosial. Artinya, lapisan masyarakat terbagi menjadi dua, yakni masyarakat kelompok dominan dan masyarakat kelompok kelas bawah. Masyarakat dominan ini tentunya memiliki hak-hak istimewa dan kehidupan yang lebih baik jika dibandingkan dengan masyarakat kelompok bawah, seperti memiliki andil yang besar dalam masyarakat, tempat tinggal yang layak, dan lain sebagainya. SDT atau teori dominasi sosial melihat bahwasannya terdapat tiga sistem stratifikasi yang berbeda dalam pengelompokan manusia berdasarkan hirarki sosial  yakni:

  • Usia, artinya bagaimana orang dewasa dan orang usia menengah memiliki social power atau kekuatan sosial yang lebih dibandingkan dengan remaja atau anak-anak.
  • Jenis kelamin, dimana laki-laki memiliki kekuatan sosial dan politik yang lebih dibandingkan dengan perempuan.
  • Arbitrary-set artinya pengelompokan kekuatan sosial berdasarkan pada sebuah sistem yang diciptakan oleh masyarakat secara sosial berdasarkan pada kategorisasi hirarki seperti: ras, kasta, etnis, kenegaraan, kelas sosial, agama, dan pembedaan kelompok-kelompok lain yang dapat diciptakan oleh manusia.

SDT meyakini bahwasannya tingkatan level kelompok masyarakat berdasarkan hirarki seperti legitimizing myths, institusi sosial, gender dan arbitrary-set memiliki dua karakter yakni hierarchy-enhancing artinya mampu menguatkan sistem hirarki atau sebaliknya hierarchy- attenuating artinya mampu melawan atau melemahkan sistem hirarki.

SDT atau teori dominasi sosial meminjam ide dari teori-teori classical dan neoclassicaal elitism bahwasannya sistem sosial dan organisasi sosial yang kompleks sebenarnya sangat menganut sistem hirarki dan sistem ini terstruktur sampai pada lapisan bawah, sehingga apa yang dilihat sebagai aturan-aturan demokratis adalah bentuk dari kontrol para pemegang kekuasaan. Ideologi sosial yang ditanamkan adalah untuk memperkuat posisi dominan para pemegang kuasa. Ideologi sosial meliputi Ide bahwasannya aturan-aturan para elit adalah aturan atau norma yang paling benar, tak terelakkan dan adil disebut sebagai “Legitimizing myths” oleh teori SDT yang disingkat menjadi LMs. Perbedaan antara SDT dan pendekatan marxist adalah SDT tidak menganggap bahwasannya semua LMs adalah salah atau memperkuat sistem hirarki, tetapi LMs juga dapat melawan sistem hirarki tersebut.

Menghubungkannya dengan teori dominasi sosial yang menganggap bahwasannya tidak semua legitimizing myths  bersifat memperkuat sistem hirarki, tetapi juga dapat melawan atau melemahkan sistem hirarki mengingatkan saya pada peraturan daerah tentang batas tinggi bangunan yang ada di Bali yakni tidak boleh melebihi tinggi pohon kelapa atau kurang lebih 15 meter. Peraturan tinggi bangunan di Bali ini dibuat oleh para leluhur di Bali pada jaman dahulu kala, yang kemudian dijadikan sebagai rujukan Peraturan daerah di bali mengenai batas tinggi bangunan untuk menjaga aura kesucian Bali. Seperti yang diungkapkan oleh salah satu wakil rakyat DPRD di Bali, peraturan perda di Bali ini sesungguhnya tidak hanya berfungsi menjaga kelestarian arsitektur bali melainkan juga berfungsi sebagai “benteng” untuk melindungi budaya bali ataupun agama hindunya dari budaya westernisasi yang dibawa oleh turis atau wisatawan yang pergi ke bali.

Para leluhur yang dapat membuat peraturan yang bersifat tak terelakkan atau bersifat wajib untuk ditaati tentunya adalah seseorang atau ketua adat yang diangggap suci dan datang dari kasta yang tinggi. (mengingat Bali masih memberlakuan pengelompokkan masyarakat berdasarkan pada kasta hingga saat ini) Tentu hal ini merupakan bentuk dari dominasi leluhur yang dianggap suci yang datang dari kasta tertinggi terhadap rakyat jelata atau kepada kasta-kasta dibawahnya. Jika dilihat dari kacamata SDT atau teori dominasi sosial, peraturan-peraturan yang dikonstruk oleh para leluhur yang berkasta tinggi tersebut dapat disebut sebagai LMs (Legitimizing Myths) salah satu bentuknya adalah peraturan batas tinggi bangunan. Nyatanya, LMs yang dikonstruk oleh kelas dominan yakni leluhur berkasta tinggi ternyata berperan sebagai Hierarchy-attenuating atau bersifat melawan atau melemahkan hirarki kelas sosial yang datang dari barat yakni budaya westernisasi yang dibawa oleh para turis atau wisatawan asing di Bali dalam hal pembangunan Resort, Hotel dan tempat hiburan lain yang bernuansa barat dan berpotensi menghilangkan budaya dan adat Tradisional Bali.

Referensi:

Jim Sidanius, Felicia Pratto. 2011. Social Dominance Theory dalam Handbook of Theories of Social Psychology. Sage Publications

http://www.matadunia.id/2016/02/peraturan-daerah-dan-hukum-adat_25.html

http://www.satriasolder.com/perda-tinggi-bangunan-di-bali/

Memanusiakan Manusia

Opresi menurut Young dalam “five faces of Opression” dapat secara mudah dipahami sebagai segala bentuk perlakuan oleh seseorang atau sekelompok orang  yang dapat mengurangi potensi  orang lain untuk menjadi seorang manusia secara sepenuhnya. Yang artinya perlakuan tersebut tentunya bersifat tidak memanusiakan orang lain, kata tidak memanusiakan orang lain memang terdengar sangat  ekstrim, tetapi sebenarnya segala bentuk pengambilan hak seseorang sebagai manusia merupakan bentuk dari tidak memanusiakan manusia. Hak manusia adalah mendapat kebebasan, entah itu kebebasan dalam berpikir, berpendapat ataupun bebas dalam memilih jalan hidupnya masing-masing.

Opresi menurut Young hadir dalam lima bentuk, yakni:  eksploitasi, Marginalisasi, powerlessnes atau ketidakberdayaan, imperialisme budaya dan violence atau kekerasan.

Eksploitasi singkatnya adalah segala bentuk upaya atau kegiatan penggunaan tenaga orang lain untuk mendapatkan upah sebesar-besarnya tanpa memberi upah yang sepadan. Sedangkan arti singkat dari  marginalisasi adalah meminggirkan atau membatasi sekelompok manusia yang dipercaya memiliki kedudukan yang lebih rendah dalam masyarakat, Young percaya bawasannya marginalisasi ini lebih buruk dari eksploitasi karena masyarakat telah menentukan nilai-nilai tentang sekolompok manusia tersebut sehingga mereka tidak akan diberdayakan lagi oleh masyarakat. biasanya bentuk marginalisasi ini berdasarkan pada ras-ras tertentu.

Ketidakberdayaan atau powerlessness bersumber dari pikiran Marx bawasannya masyarakat ini terbagi menjadi dua, yakni yang berada atau memiliki kekuasaan dan yang tidak berada, atau tidak memiliki kekuasaan. Dan yang tidak memiliki kekuasaan inilah yang akan ditindas oleh yang memiliki kekuasaan. Sedangkan Imperialisme budaya singkatnya adalah penggunaan budaya dari ruling class atau kelas penguasa dan menjadikannya sebagai norma atau aturan aturan yang berlaku bagi seluruh masyarakat. Dan yang terakhir adalah Violence atau Kekerasan, yang merupakan bentuk paling kasat mata dari opresi. beberapa kelompok masyarakat hidup dengan anggapan bahwa mereka harus takut terhadap ancaman-ancaman yang tidak beralasan terhadap anggota kelompok mereka atau harta benda mereka.  Ancaman-ancaman tersebut tidak perlu memiliki motif dasar atau alasan  yang jelas namun hanya dimaksudkan untuk merusak, mengina atau mempermalukan seseorang individu atau sekelompok individu tertentu.

Tubman berkata “I would have free thousands more, if they had known they were slaves”. Seperti yang dikatakan oleh Tubman, dari kelima bentuk opresi bagi saya ketidakberdayaan atau powerlessness lah yang menjadi hal paling berbahaya.  karena bagaimanapun perasaan tidak berdaya pada seseorang  dapat menindas diri mereka sendiri. Freire dalam artikelnya berpendapat bahwa sifat ketidakberdayaan menciptakan sebuah budaya yang disebutnya sebagai “Culture of Silence” atau budaya diam dan jika mereka sudah mencapai level ini maka mereka akan bungkam terhadap segala bentuk penindasan dan tidak akan berupaya untuk memperoleh keadilan.

1486722390127
Enter a caption

Powerlessness atau ketidakberdayaan rupanya bukan hanya terjadi pada orang yang tidak memiliki power atau kekuasaan seperti yang dikatakan Marx, tetapi juga pada seseorang yang memiliki kekuasaan namun seseorang tersebut mengijinkan terwujudnya culture of silence atau budaya diam, artinya individu tersebut  memilih untuk bungkam terhadap segala bentuk penindasan dan tidak  berupaya untuk memperoleh keadilan. Melanie Trump sebagai First Lady di Amerika serikat yang diyakini memiliki hak-hak istimewa kerap kali diberitakan menjadi korban penindasan dari suaminya yang sekaligus menjabat sebagai presiden Amerika serikat. Dalam beberapa kesempatan wawancara yang melibatkan keduanya baik Donald Trump maupun Melanie Trump, beberapa pertanyaan diutarakan kepada Melanie Trump, namun suaminya, Donald Trump tidak pernah memberikan kesempatan pada Melanie untuk menyuarakan pendapatnya. Dan lebih buruknya, di lain kesempatan Melanie justru terlihat enggan untuk menjawab semua pertanyaan yang ditujukan padanya dan memilih untuk diam.

Perempuan memang seringkali termarginalkan, dijadikan korban dari segala bentuk ketidaksetaraan dan terlilit oleh stereotip-stereotip seperti lemah, tidak berdaya tanpa kaum lelaki dan lain sebagainya. Namun seharusnya baik perempuan maupun kaum-kaum yang termarginalkan harus menyadari bahwasannya cara yang paling tepat untuk mengakhiri ketidakberdayaan adalah menjadi sadar akan segala sesuatu yang terjadi disekitar mereka. Sadar akan perlakuan yang didapatkan, Sadar bagaimana masyarakat telah membentuk stereotipe-stereotipe tertentu yang menjadikan perempuan atau kelompok minoritas menjadi semakin termarginalkan dan lain sebagainya. Yang mana kesadaran tersebut tentunya dapat didapat melalui pendidikan baik formal maupun non-formal, literasi, dan refleksi diri untuk mengidentifikasi siapa kita, apa yang kita percaya dan yakini dan mengapa kita berperilaku sedemikian rupa.

Suara kita lah yang membebaskan diri kita…

Referensi: